Kopi Sarongge: Cita Rasa dari Hutan yang Terjaga

Sebatang rasamala tegak menjulang di kebun Mang Ece. Bibit kopi yang baru ditanam, berjejer rapi di bawah pohon itu. Ini khas petani kopi Sarongge. Mereka tanam arabica, bukan di hamparan kebun terbuka. Tetapi di bawah tegakkan hutan. Kopi Arabica di sini, ditanam dengan pola agroforestry. Mereka kembalikan kopi menjadi tumbuhan hutan.

Selain pohon hutan endemik Jawa Barat, penaung juga dikombinasi dengan pohon buah-buahan: alpukat, nangka, juga kayu manis. Kopi arabica yang ditanam adalah varietas campuran: Lini S, Sigararutang, Typica, dan Andungsari. Jenis-jenis yang cocok dengan ketinggian kebun petani, 1.000-1.600 mdpl. Suhu Sarongge yang berkisar 16-24ºC, cocok untuk mendukung pertumbuhan kopi arabica.

Petani biasanya menanam varietas campuran, bukan varietas tunggal. Selain mengkombinasikan dengan tegakkan hutan, banyak petani Sarongge menanam kopi sebagai tanaman pagar atau selingan dari kebun sayur mereka.

Kompleksitas cara tanam, yang mementingkan hutan dan juga tradisi kebun sayur, menimbulkan rasa dan sensasi khas kopi Sarongge. Kopi arabica dari Sarongge mempunyai body sedang dan asam lembut. Ada rasa segar buah dan sedikit manis di ujungnya. Kami menyebutnya: cita rasa dari hutan yang terjaga. Arabica Sarongge, enak dinikmati ketika hangat, juga dalam seduhan dingin.

Petani Sarongge menanam kopi, bukan hanya untuk menambah penghasilan. Tetapi juga bagian dari upaya merawat hutan. Dan riwayat mereka menghutankan kembali sebagian area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sudah dikenal luas. Sejak 2008 mereka menanam pohon hutan di kebun sayur dan bertahap turun dari taman nasional. Bekas kebun sayur seluas 38 ha itu, sekarang telah jadi hutan kembali – dengan pohon-pohon endemik setinggi 20 meter.

Kopi Arabica dan Perhutanan Sosial

Sejak Juli 2018, Kelompok Tani kopi Satria Mandiri yang menaungi petani kopi Sarongge, mendapat izin perhutanan sosial. Di atas lahan Perhutani seluas 21,5 ha. Mereka diberi akses mengelola lahan itu selama 35 tahun. Para petani Sarongge itu, mengembangkan kopi arabica di tempat barunya. Banyak di antara mereka berharap kebun-kebun di kaki Gunung Geulis itu akan jadi kebun terakhir mereka. “Tidak ingin pindah lagi,” kata Dudu Duroni, salah seorang petani Sarongge.

Sukses petani Sarongge menginspirasi petani desa tetangganya. Petani Desa Pakuwon (Sukaresmi) dan Ciherang (Pacet) kini sedang mengurus izin perhutanan sosial. Mereka juga berniat menanam kopi Arabica di lahan Perhutani. Sebagian yang ketinggian lahannya kurang dari 1.000 mdpl, menanam kopi robusta

Kini petani Sarongge makin giat menanam kopi arabica. Mereka hasilkan kopi khas dengan merek: Kopi Sarongge. Sembari masih menanam sayur-mayur. Sayur untuk penghasilan bulanan. Sementara kopi menjadi tabungan dan panen setahun sekali.

Cerita Sarongge

Sarongge. Cerita hutan, manusia dan cintanya. Bermula dari ikhtiar menghutankan lagi bukit-bukit gundul di kaki Gn. Gede, cerita berkembang ke banyak hutan yang dirusak di Indonesia. Seturut perjalanan Karen, ksatria pelangi yang bergerak merawat bumi. Sarongge dalam cerita ini, belum menyinggung soal kopi. Tetapi kegigihan petani yang menghutankan kembali kebun-kebun sayur mereka, telah mendorong munculnya Kopi Sarongge. Kopi dengan cita rasa dari hutan yang terjaga.

Cerita dari Sarongge tulisan Green Initiative Foundation juga bisa dibaca dalam format ebook di sini.

Novel Sarongge karya Tosca Santoso bisa didapatkan dengan format ebook di sini.

Edisi Inggris novel ini, tersedia berkat ketekunan dua sahabat.  Diterjemahkan oleh Tessa Piper, dan diedit Juliana Wilson. Terimakasih tak terhingga untuk kesabaran dan kerja keras itu.

Novel Sarongge edisi Inggris bisa didapatkan di sini.