Jaga Jarak, Rekatkan Solidaritas

Mengapa virus ini menakutkan?

Karena dia begitu kecil. Tak terlihat. Tapi menyebar sangat cepat, dan membunuh orang dalam hitungan hari. Sebelum orang sempat bereaksi. Menghadapi pembunuh yang tak tampak itu, kita serasa dikepung bahaya. Tak tahu harus memasang pertahanan apa.

Memang kemudian ada penjelasan. Bagaimana COVID-19 menginfeksi orang. Menular dari satu ke orang lain, lewat percikan liur, bersin, batuk. Tak ada bukti virus ini bisa terbang sendiri di udara. Maka dianjurkan: orang menjaga jarak satu sama lain, sekurangnya 2 m. Dan, hindari kerumunan.

Apapun tujuan kerumunan itu, dampaknya sama. Entah seminar gereja, pentahbisan uskup, seminar bisnis syariah, tabligh akbar, kongres partai, musyawarah pengusaha, mantenan, reuni sekolah, konser musik, liburan keluarga. Semua yang membuat orang berdekatan, memudahkan COVID-19, pembunuh tak kasat mata itu, sekelebat loncat pindah inang. Artinya: menerkam korban baru.

Dan virus ini tak diskriminatif. Ia tidak memilih sasaran. Acak. Dari menteri sampai sopir bus. Juga pangeran hingga pegawai. Siapa saja bisa kena. Gejalanya: demam, batuk, sesak nafas. Bisa pulih kalau daya tahan tubuh kuat. Tapi tak sedikit yang mati. Apalagi kalau yang dihinggapi itu sebelumnya punya riwayat sakit: darah tinggi, jantung, diabetes. Orang berusia lebih dari 60 tahun, lebih rentan pada daya bunuh COVID-19.

Maka cara untuk memutus rantai penyebarannya adalah jaga jarak. Presiden Jokowi memberi teladan bagus. Bahkan pada saat berkabung atas wafat Ibundanya, ia meminta pejabat Jakarta tidak datang melayat ke Solo. Yang ia harap adalah doa dari jauh. Presiden konsisten dengan kebijakannya: agar orang menjaga jarak, tidak berkerumun.

Jalan duka masih panjang. Kurva korban masih meningkat. Belum terlihat puncaknya. Apalagi landai. BNPB menetapkan Darurat Corona ini sampai 29 Mei 2020. Dua bulan lagi. Yang mengkhawatirkan, pada 24-25 Mei adalah hari raya lebaran. Biasanya didahului tradisi mudik massal. Tahun lalu, mudik melibatkan perjalanan pulang sekitar 18 juta orang.

Memang mulai ada imbauan untuk tidak mudik lebaran tahun ini. Jakarta adalah wilayah dengan positif COVID-19 tertinggi di Indonesia. Kalau orang tetap mudik ke kota-kota asalnya, diduga akan menyebarkan virus ini lebih masif. Dan makin sulit penanganannya.

Saat ini, kita punya gugus tugas penanganan COVID-19. Dikomandani Doni Monardo yang juga Kepala BNPB. Selain serukan jaga jarak, gugus tugas ini memobolisir semua potensi untuk menangani yang sakit. Rumah sakit darurat khusus COVID-19 didirikan di Wisma Atlet Kemayoran. Pemeriksaan cepat, juga jadi salah satu program ujung tombak mereka.

Dan yang berdiri paling depan, mengambil risiko tertular, dalam tugas mulia ini, adalah dokter dan para tenaga kesehatan. Merekalah pahlawan yang sekarang berjibaku menyelamatkan warga.

Petani Sarongge mengirimkan kopi dari kebun mereka untuk para tenaga kesehatan yang sedang berjuang itu. Sekiranya ada jeda, biarlah SARONGGE Ki Hujan Aren ini menemani dan memberi sedikit kesegaran. Hanya itu yang kami punya. Dan kami ingin mendukung para pahlawan itu, dari garis belakang.

COVID-19 memang menakutkan. Tetapi ada lebih banyak kekuatan, solidaritas yang akan membuat kita mengatasi wabah ini. Mari, kita perkuat rasa dan tindakan saling dukung.

Hormat untuk para pahlawan, tenaga kesehatan kita.