Bawa Kopi Sarongge, Dharma Eka Jawara Barista Sukabumi

"Mungkin Tuhan menciptakan Kopi sebagai penengah, bagi kita yang terpisah rumah."

Minggu, 28 Juli 2019 menjadi hari yang luar biasa bagi seorang Dhama Eka. Barista cantik asal Barn Coffee yang satu ini kembali berhasil menorehkan prestasi yaitu sebagai juara di acara Sukabumi Coffee Festival yang diselenggarakan Lokaproject Sukabumi di Museum Pegadaian. Menariknya Dhama menggunakan Kopi Sarongge untuk babak semifinal dan final.

“Awalnya kita masih bingung dan searching roasted bean apa yang mau dipakai buat compete, khususnya di babak open service. Tapi kebetulan teman saya yang kerja di Cianjur ketemu kang Fakhri di Mauna Coffee – Cianjur, dia bawa green bean Sarongge Full Wash sama Sarongge Natural, buat dicoba di-roasting di Two Hands Full (THF), Bandung. Owner Mauna, Davin, punya akses ke THF, ke roaster-nya langsung Stefan Setiadi. Setelah di-roasting, teman saya Adhi, menyimpulkan Kopi Sarongge hasil roasting THF, lebih soft juga punya cita rasa fruity yang intens. Jadi, kita yakin Kopi Sarongge ini yang kita pilih buat babak open service,” tutur Dhama mengenai alasan penggunaan Kopi Sarongge.

Lebih lanjut, Dhama dan kawan-kawan memilih Sarongge Natural untuk babak semifinal adalah karena bean ini lebih intens aroma buah nanas dan brown sugar, lalu ada cocoa nibs. Juga medium tartaric acid dan sweet like grape. Bodynya smooth, juicy and clean. Long after taste dan sweet dengan rasa nanas yang intens ketika hangat.

Sementara itu, Dhama juga menuturkan perihal penggunaan bean Sarongge Full Wash untuk babak final karena bean Sarongge Full Wash memiliki aroma brown sugar, hints aroma dari jahe. Dhama juga menuturkan dia menyukai flavor kayu manis dan red apple. Ketika kopinya dalam keadaan dingin flavornya jadi lemon mellow. Body yang smooth, thick but not heavy body, juga menjadi salah satu alasan kenapa Dhama memilih menyeduh Sarongge Full Wash di babak Final.

Bambang Wahyu Hidayat, sebagai national certified judge yang menjadi salah satu juri di acara Sukabumi Coffee Festival menuturkan salah satu kriteria sebagai juara adalah cup score, yang menunjukan kepiawaian barista untuk memilih kopi yang akan digunakan. Selain itu, ada juga penilaian untuk taste description dan customer service. Dhama Eka menunjukan dia berhasil menguasai 3 elemen tersebut, sehingga akhirnya tim juri memberikan nilai tertinggi untuknya.

Dhama Eka yang akrab dipanggil Dhama ini ternyata sudah lebih dari 1 tahun berprofesi sebagai barista. Awalnya, Dhama sering mengelilingi coffee shop di Sukabumi untuk mencoba berbagai seduhan manual. Karena merasa penasaran, Dhama mulai banyak bertanya kepada barista-barista senior. Namun ternyata, semakin banyak tahu, Dhama semakin heran. Mengapa rasa kopi yang dia coba bisa berbeda rasanya? Bahkan dia heran ketika menemukan kopi dengan rasa unik seperti vanila atau buah mangga.

Dhama juga menuturkan, dari kopi dia bertemu kekasih yang juga mentornya di dunia kopi saat ini. Mulai saat itu Dhama mulai fokus dan intens belajar tentang kopi. Passion dan motivasi Dhama ternyata tidak hanya sebatas menyeduh kopi, Dhama juga ingin mulai mengenal kopi dari hulu hingga ke hilir, lebihnya dia juga ingin mengenalkan kopi manual brew kepada orang-orang yang masih menilai kopi itu pahit. Menurutnya, kopi itu sudah sebagai sarana komunikasi baik dalam pertemanan, bisnis bahkan percintaan, layaknya Dhama yang menemukan Aldi sebagai mentor dan kekasihnya. Lebih jauh, Dhama menuturkan, “mungkin Tuhan menciptakan Kopi sebagai penengah, bagi kita yang terpisah rumah.”