Sarongge 1535

SARONGGE 1535

Biji kopi untuk varian ini khusus dipetik dari kebun-kebun di atas 1.500 mdpl. Karena ketinggian itu, proses pematangan buah kopi pada pohonnya menjadi lebih lambat, sehingga menciptakan rasa yang lebih kaya. Asam buah apel atau stroberi sering ditemukan dalam Sarongge 1535.

Varian ini diolah dengan proses basah atau Full Wash.

Notes yang dihasilkan pada light roast: jeruk, serai wangi, dan madu. Memiliki aroma bunga ginger lily serta rasa kopi yang bersih, tekstur yang halus dan after taste yang nyaman.

Notes diulas oleh Kurniawati, Q-Grader dari LN Fortunate Coffee Roastery.

Sarongge Honey

Sarongge Honey

Honey adalah proses pengolahan paska panen jalan tengah antara proses basah dan kering. Sama seperti Full Wash, buah kopi dirambang dan dikupas terlebih dahulu. Namun yang membedakan, biji kopi yang didapat tidak dicuci dan langsung dijemur, bersama dengan sisa lendir yang melekat pada cangkang kopi. Penjemuran bersama lendir inilah yang menyebabkan rasa manis yang lebih panjang. Akibatnya, penjemuran membutuhkan waktu yang lebih lama, hingga 21 hari.

Sarongge Winey

Sarongge Winey

Winey pada dasarnya merupakan perpanjangan dari proses natural. Sama seperti proses natural, buah kopi juga dijemur bersama buah dan kulitnya. Namun, sebelumnya dilakukan proses fermentasi berlebih. Buah kopi yang terbaik, dimasukkan dalam kantong kedap udara. Fermentasi dijaga, sekitar 21 hari. Kemudian, buah kopi dijemur sampai mencapai kadar air 12%, kira-kira 28 hari, seperti pada proses natural. Akibatnya, ada jejak rasa alkohol dari fermentasi yang diperpanjang itu.

Sarongge Natural

SARONGGE Natural

Natural biasa juga disebut sebagai proses kering. Karena buah kopi hanya dirambang, tidak dikupas maupun dicuci. Jadi, buah kopi dijemur utuh dengan daging buah dan kulitnya. Akibat dari ini, penjemuran menjadi jauh lebih lama, bisa mencapai 28 hari. Tetapi, proses ini menghasilkan asam lembut, segar buah yang lebih kompleks, dan sisa manis lebih panjang.

Tahun ini, Kopi Sarongge mencoba modifikasi proses natural dengan fermentasi dalam ruang hampa udara (vacuum). Setelah dirambang, cherry dimasukkan ke dalam kantung kedap udara, dan dibiarkan terfermenrasi secara anaerobic selama 2-3 hari. Setelah itu biji kopi dijemur sampai kering.

Sarongge Lanang

Sarongge Lanang

Pada umumnya, buah kopi jika dibelah akan memiliki dua biji di dalamnya. Namun, pada setiap panen kopi biasanya terdapat sekitar 3% buah kopi yang berbiji tunggal (lanang, peaberry). Biji menyimpang itu dipilah secara tekun untuk menghasilkan Sarongge Lanang. Akibat dari biji tunggal ini, terdapat intensitas asam dan segar buah yang lebih terasa, karena seluruh nutrisi pada buah kopi hanya akan terserap pada satu biji saja.

Sarongge Lanang kemudian diolah secara basah atau Full Wash.

Sarongge Rosidi

SARONGGE Rosidi

Sarongge Rosidi, robusta terbaik (fine robusta) dari dataran tinggi. Karena ketinggiannya ini, ia menyimpan jejak manis serta cokelat, yang cukup jarang ditemukan pada robustarobusta di Indonesia pada umumnya. Varian ini dibuat untuk mengigat petani yang sabar dan tekun mengolah tanah mereka, Ia juga penanda akan masa, yang seberat apa pun telah mereka lalui,

Sarongge Rosidi kemudian diolah secara basah, atau Full Wash.

Rosidi diambil dari nama petani yang pernah tinggal di Kampung Sarongge. Ia berasal dari Sukanagara, dan dibawa ke kampung kaki Gn. Gede ini setelah prahara 1965. Rosidi ditangkap dan ditahan tanpa pernah diadili. Sampai wafat di kampung ini 2017. Kisah hidupnya dapat dibaca lewat buku “Cerita Hidup Rosidi”, karya Tosca Santoso 2016.

Buku Cerita Hidup ROSIDI

Cerita Rosidi di BBC

Cerita Rosidi di tirto.id

Sarongge Ki Hujan

SARONGGE Ki Hujan

Ki Hujan (Engelhardia spicata) adalah pohon endemik di hutan Sarongge. Racikan sedikit robusta dan banyak arabica ini dibuat untuk menyesuaikan kebiasan petani menikmati kopi, dengan rasa penuh di rongga mulut. Kopi arabica akan memberikan kompleksitas asam, sedangkan kopi robusta memberikan body yang lebih tebal. Sarongge Ki Hujan, adalah jembatan bagi seluruh kalangan untuk menikmati kopi.

Sarongge Ki Hujan merupakan kopi yang diolah secara basah, atau Full Wash.

SARONGGE Ki Hujan Aren

Kini, Sarongge Ki Hujan juga tersedia dalam kemasan siap seduh. Racikan spesial yang berisikan arabica, robusta dan gula aren ini bisa langsung diseduh hanya dengan menambahkan air panas saja.

Kami menggunakan gula aren yang diolah dari pohon aren asli hutan, sehingga tetap menjaga cita rasa dari hutan yang terjaga.

Ladu

Ladu memperkenalkan indahnya gunung-gunung, hutan dan nikmatnya kopi Indonesia. Dari Lembah Masurai, Toraja, Tambora dan pegunungan Jawa. Yanis dan Arti, menemukan kopi dengan citarasa berbeda.

Walau letusan gunung, kadang mengubur peradaban. Tapi di hari biasa, gunung adalah berkah yang membuat petani betah menghuni lereng-lerengnya. Dan mereka putuskan membuka kebun kopi di kaki Gunung Geulis. Tempat Ki Hujan ini berawal…

Novel Ladu bisa didapatkan di sini.

Sarongge Full Wash

SARONGGE Full Wash

Sebelum proses olah basah Kopi Sarongge, petani Sarongge terbiasa memanen kopi hanya yang sudah merah. Langkah awal untuk memperoleh cita rasa yang prima, dimulai dengan memetik biji arabica yang tepat kematangannya. Biji dipetik satu persatu, bukan ditarik habis, yang di Sunda biasa disebut parol. Ini untuk menjaga hanya biji merah yang dipanen; dan menyisakan biji hijau untuk panen berikutnya. Tak lebih dari 6 jam, setelah gelondong merah (cherry) itu dipetik, dibawa ke tempat pengolahan Kopi Sarongge dan diolah secara full wash atau natural.

Full wash merupakan pengolahan paska panen secara basah. Buah kopi (ceri) yang sudah dipanen, pertama dirambang dalam bak yang berisi air untuk memisahkan kualitasnya. Buah kopi yang baik akan tenggelam, sedangkan yang kurang akan mengambang. Setelah proses perambangan, buah kopi dikupas untuk memisahkan daging dengan bijinya, dengan menggunakan mesin pulper. Dengan mesin berkapasitas 100 kg/jam, kami ingin memastikan biji kopi yang datang hari ini langsung dikupas. Tak menunggu malam.

Walaupun pekerjaan merambang dan mengupas ini, di Sarongge yang dingin, semakin mengkerutkan jemari, kalau petani datang terlalu sore. Kami tetap tak ingin menyimpannya bermalam tanpa dikupas. Jadi, pada dingin petang atau malam sekalipun, kami tetap hidupkan pulper, bila petani datang.

Kemudian biji kopi yang didapat, dibiarkan untuk terfermentasi selama 12 jam. Ini termasuk masa fermentasi yang tergolong pendek. Fermentasi dapat dilakukan secara basah di dalam bak air, maupun secara kering di dalam karung. Dalam fermentasi ini, sisa glukosa dari daging kopi, dipecah oleh bakteri menjadi asam dan alkohol. Pada tahun ini pun, kami juga mencoba melakukan modifikasi pengolahan paska panen secara kering pada tahap fermentasi ini.

Setelah proses fermentasi selesai, biji kopi dicuci bersih, dengan air yang melimpah di Kampung Sarongge. Pencucian dilakukan sampai hilang semua sisa lendir. Bila dipegang, akan terasa kesat. Kualitas air memegang peran penting dalam proses olah basah kopi, baik untuk proses fermentasi maupun pencucian. Air yang tidak tercemar, tidak terkontaminasi pupuk atau pestisida dari kebun petani, akan membantu didapatnya rasa kopi yang resik (clean). Itu sebabnya Kopi Sarongge membuat sumur bor, sedalam 53 m, yang memungkinkan pasokan air terjaga volume dan pasokannya. Mata air bawah tanah itu, tak kering bahkan di musim kemarau. Dan menjadi sandaran petani sekitar yang kadang kekurangan air pada musim kering.

Kemudian, biji kopi yang sudah selesai dicuci siap untuk dijemur.  Penjemuran ini memang suatu tantangan, mengingat Sarongge yang dingin dan curah hujan tinggi. Kami membuat tempat jemur semacam green house, yang dapat menahan panas hingga 35-40ºC. Dengan tempat jemur itu, kami juga merasa aman, tak buru-buru membungkus jemuran kopi, ketika tiba-tiba hujan. Selain itu, green house juga membat kopi terhindar dari kontaminan yang ada di sekitar.

Penjemuran dilakukan sampai kadar air dalam biji kopi turun ke angka 12%. Pada angka ini, jamur sudah tidak bisa lagi tumbuh pada biji kopi. Biasanya, proses penjemuran ini memakan waktu sekitar 5-7 hari, tergantung dari cuaca. Setelah penjemuran selesai, gabah (biji kopi dengan cangkangnya) dikupas dengan mesin huller, dan green bean didapatkan. Biji kopi siap untuk disangrai.