Mengenal Cup of Excellence (CoE)

Mengenal Cup of Excellence (CoE)

Kompetisi kopi paling bergengsi di dunia, kadang disebut Oscarnya kopi. Lomba ini meningkatkan kualitas kopi di berbagai negara.

Tahun 2021, untuk pertama kalinya Indonesia menggelar Cup of Excellence (CoE). Bahkan untuk Asia, itu yang pertama juga. Meski sudah 22 tahun lomba ini berlangsung, tapi baru pertama kali negara produsen kopi terbesar ke-4 dunia ini, menyelenggarakan CoE. Berkat SCAI (Specialty Coffee Association Indonesia), yang mengupayakan paten lomba ini, kita punya pengalaman menguji kualitas kopi dengan standar yang diterima pasar specialty.

“Kami senang dengan respon dan kualitas kopi yang ikut dari wilayah istimewa ini. Momen bersejarah untuk CoE,” tutur Darrin Daniel, Direktur Eksekutif CoE, seperti dilansir DailyCoffeeNews.

CoE diselenggarakan Alliance for Coffee Excellence (ACE) sejak 1999. Awalnya diinisiasi oleh George Howell dan Susie Spinder. Kompetisi kopi digelar di negara tertentu, untuk mencari kopi terbaik negara itu. Tahun lalu CoE digelar di 12 negara, antara lain: Brazil, Kolombia, Costa Rica, Guatemala, El Salvador, Ethiopia, Kenya. Yang terbaru: Indonesia. Penjajakan untuk CoE di Indonesia sudah dilakukan 2019, dengan percobaan di Gayo. Rencananya CoE akan digelar 2020. Tapi karena pandemi Covid-19, baru terwujud 2021.

“Dari awal dengar akan ada CoE, saya sudah tertarik,” kata William Edison, pendiri produsen mesin sangrai WE itu. Ia pernah mengikuti pelatihan cupping untuk CoE. Ada puluhan pelamar untuk jadi juri nasional CoE, tapi hanya 24 yang lolos seleksi untuk diundang tes di Bandung. Lalu dari peserta yang ikut tes itu, terplih 8 orang – termasuk William – untuk jadi juri nasional. Ditambah seorang head judge kiriman ACE, mereka ber-9 melakukan seleksi awal dari kopi-kopi petani Indonesia.

Foto: William Edison

Panitia CoE Indonesia menerima kiriman 158 sampel kopi dari petani. Setelah diuji kadar air (maksimal 12%) dan water activity (maks 0,65); sebanyak 148 sampel kopi lanjut ke babak pra-seleksi. Juri dikarantina di sebuah hotel, selama sepekan untuk mencicip seluruh kopi itu. Kopi-kopi diberi kode oleh auditor, sehingga yang dihadapi juri hanya cangkir dan nomor kodenya. Tidak seorang pun juri, dan panitia yang tahu, kopi yang sedang dicicip itu, berasal dari mana.

Head judge berperan penting dalam proses penilaian. Ia misalnya yang menentukan apakah tingkat sangrainya sudah cocok, untuk mengeluarkan rasa terbaik dari bean yang diuji. Kalau dirasa kurang cocok, head judge akan meminta roaster untuk menyangrai ulang. William ingat ada satu contoh kopi yang disangrai ulang sampai 5 kali, sebelum head judge merasa cocok. Kopi yang sudah disangrai, biasanya diistirahatkan (resting) 24 jam, sebelum dibawa ke meja juri.

“Dalam CoE semua fokus ke cangkir,” kata William. Penilaian CoE bersumber dari 2 hal dasar: sweetness dan cleanliness. Sweetness berasal dari ketepatan panen, pada tingkat gula optimal. Sedangkan cleanliness terkait dengan proses paska panen-

Proses cupping ronde terakhir untuk tamu undangan di Sky Nine Coffee BSD (dokumentasi: Tim Kopi Sarongge)
Proses cupping ronde terakhir untuk tamu undangan di Sky Nine Coffee BSD (dokumentasi: Tim Kopi Sarongge)

Pada babak nasional itu, terpilih 79 kopi yang mencapai skor di atas 86. Panitia menghubungi pemilik sampel, dan meminta kirim lot yang dijanjikan – sebagai persiapan kalau barangnya dilelang akan tersedia. Dalam tahap ini, tidak semua petani yang lolos, dapat menyediakan lot minimal 250 kg. Jadi hanya yang dapat mengirim lot kopinya, masuk dalam babak selanjutnya. Cupping lagi oleh juri, dan terpilih 36 kopi yang masuk babak internasional. Jurinya berubah, 3 dari Indonesia dan tambahan juri internasional dari USA, Australia, Korea Selatan dan Jepang. Pada tahap akhir ini, ada 4 kopi yang gugur karena ditemukan jejak phenol. Tinggal 32 kopi: 6 dinyatakan sebagai national winners (skor 86-86,99); dan 26 CoE Winners skor di atas 87. Kopi-kopi pemenang dari berbagai daerah Indonesia itu, akan dilelang online akhir Januari.

“Potensi kopi Indonesia sangat bagus. Skor bisa dinaikkan kalau persiapan cukup,” kata William. Ia melihat kelemahan kopi Indonesia terutama pada konsistensi. Hal itu antara lain disebabkan oleh: varietas yang tidak rata di kebun, pengolahan paska panen, dan sortiran yang kurang bagus.

Andi Wijaya, Koordinator CoE Indonesia, seperti dikutip DailyCoffeeNews, mengatakan kompetisi CoE ini memperkenalkan transparansi dan keterlacakan (traceability), yang akan mendukung berlanjutnya industri kopi di Indonesia. Sebanyak 120 international bidders telah mendaftar untuk ikut lelang CoE Winners, dan hasil lelang yang baik diharapkan akan menyemangati petani untuk meningkatkan kualitas kopi mereka.

***

Terkait: Kopi dari Kebun Penyangga Taman Nasional, perjalanan Kopi Sarongge untuk menjadi CoE Indonesia Winner 2021

Kopi dari Kebun Penyangga Taman Nasional ke CoE Winners

Kopi dari Kebun Penyangga Taman Nasional

Green House Kopi Sarongge
Green House Kopi Sarongge

Perjalanan beans dari panen hingga menembus CoE Winners dan siap dilelang internasional.

Cup of Excellence (CoE) mulai dibincangkan pegiat kopi Indonesia awal 2021. Pengurus SCAI (Specialty Coffee Association Indonesia) berencana menggelar kompetisi ini, pertama kali di Indonesia – bahkan pertama di Asia pada 2021. Kompetisi yang bertujuan memicu kualitas kopi specialty ini, akan mengangkat nama Indonesia di ajang kopi specialty dunia. CoE punya standar dan mekanisme yang transparan, dan hasilnya dilelang untuk peminat. Kredibilitasnya diakui. Saya berminat ikut lomba ini.

Tetapi sejak awal, sebetulnya saya punya keraguan. Sarongge termasuk pemula dalam pertanian kopi. Kebun-kebun yang dapat dikonteskan sedikit sekali. Sebagian besar kebun petani Kopi Sarongge ada dalam wilayah hutan sosial, yang ketinggiannya kurang menjanjikan untuk lomba. Mayoritas malah menanam robusta, yang tidak masuk kategori lomba CoE. Kebun yang cocok untuk lomba ini, adalah kebun di batas taman nasional Gn. Gede-Pangrango, umumnya milik petani kecil-kecil. Saya ada kebun tak sampai se-hektar di batas taman itu, terserak di beberapa titik di batas taman nasional. Kebun-kebun yang baru panen dua kali itu, jadi andalan saya untuk nekat ikut lomba CoE.

Panen di Kebun Sarongge 1535
Panen di Kebun Sarongge 1535
Pohon Kopi yang Sedang Berbuah pada masa Panen Raya di Kebun Sarongge 1535
Pohon Kopi yang Sedang Berbuah pada masa Panen Raya di Kebun Sarongge 1535

Saya menyebutnya Kebun Sarongge 1535. Untuk mengingat ketinggian ujung kebun itu: 1.535 mdpl. Letaknya persis di batas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tahun 2016 kebun ini masih berupa kebun sayur; ditanami sawi, bawang daun, kol atau cabai. Saya menanam Arabica varietas S-795, Andungsari dan Sigararutang, di bawah pohon penaung: nangka, alpukat, kayu manis, jeruk, juga lamtoro dan kacang babi. Lebih rimbun dari umumnya kebun kopi, karena saya sebetulnya ingin kembalikan kebun itu menjadi hutan penyangga taman nasional.

Panen di Kebun Sarongge 1535
Panen di Kebun Sarongge 1535
Buah Kopi (Ceri) yang sudah Dipanen
Buah Kopi (Ceri) yang sudah Dipanen

Ada dua hal dasar yang jadi perhatian CoE: sweetness dan cleanliness. Tentu dalam form juri, ada turunan yang lebih rumit tentang penilaian secangkir kopi. Tetapi saya fokus pada dua hal itu. Saya coba mengejar, mengoptimalkan rasa manis dan resik. Rasa manis kopi bersumber dari panen yang tepat waktu – ketika kadar gulanya maksimal; sedangkan resik berkaitan dengan proses paska panen yang baik – agar terhindar dari jamur selama pengeringan, dsb.

Bak Pencucian Kopi Sarongge
Bak Pencucian Kopi Sarongge
Buah Kopi (Ceri) yang sudah di-Pulper
Buah Kopi (Ceri) yang sudah di-Pulper

Pada Mei 2021, menjelang musim panen saya menyiapkan tambahan beberapa alat sederhana untuk proses paska panen. Yang sudah tersedia tentu saja: tempat perambangan, pulper, tempat fermentasi, ruang jemur, huller; pengukur kadar air. Kali ini saya ingin mengetahui kadar gula ketika biji kopi dipetik, untuk itu perlu refractometer. Lalu untuk mengetahui kapan fermentasi dihentikan, saya beli pengukur keasaman (pH meter). Dan di ruang jemur, saya lengkapi pengukur suhu dan kelembaban. Alat-alat tambahan ini sederhana dan mudah dibeli.

Bacaan Refraktometer untuk Mengukur Kadar Gula Buah Kopi
Bacaan Refraktometer untuk Mengukur Kadar Gula Buah Kopi

Maka pada musim panen, Juni-Agustus lalu, tiap kali ke kebun saya tak lupa membawa refractometer. Tiap mengawali petik, saya tes kadar gula kopi itu, dengan meneteskan sari buah perasan daging kopi ke kaca refractometer. Di sana terlihat angka, yang menunjukkan persentasi kadar gula. Pada kopi warna merah muda, angka terlihat sekitar 15%. Tapi pada biji kopi yang lebih tua, warna merah marun, ada yang mencapai 21%. Jadi kalau sebelumnya, kami melakukan panen petik merah; kali ini lebih spesifik merah tua lebih bagus daripada yang merah menyala. Perlu waktu sekitar 2 minggu untuk menunggu yang merah muda jadi merah hati.

Perbedaan Warna Merah pada Buah Kopi
Perbedaan Warna Merah pada Buah Kopi
Buah Kopi yang Dipanen dan Dikupas
Buah Kopi yang Dipanen dan Dikupas

Setelah memilih panen biji kopi yang merah hati, saya proses olah basah. Kali ini dengan cara dua kali fermentasi dan cuci, seperti yang biasa dilakukan petani Kenya – itu sebabnya sering disebut proses Kenyan Wash. Cara ini saya tempuh, untuk memastikan fermentasinya tuntas, dan resik. Air bersih yang melimpah di Sarongge jadi keunggulan yang ingin saya maksimalkan fungsinya. Dan, untuk memastikan fermentasinya optimal, saya mengikuti beberapa hasil riset yang menunjukkan pH 4,6 adalah titik optimal itu. Fermentasi yang pas, memudahkan sisa lendir di kulit kopi larut ketika dicuci, dan mendukung penjemuran yang resik.  Sisa gula di cangkang, sering mengundang jamur yang mengganggu ketika paska panen kopi. Kami ingin cuci sampai bersih. Kalau pH terlalu rendah, kemungkinan sudah over-fermented. Jadi, berburu pH 4,6 itu yang mesti diupayakan.

Rak Penjemuran di dalam Green House Kopi Sarongge
Rak Penjemuran di dalam Green House Kopi Sarongge

Setelah kopi dikeringkan, hingga kadar air 11-12%, kami sortir manual. Dengan ketekunan tangan ibu-ibu di Kopi Sarongge — Bu Aah, Iis, Dede, Iin — memilah green beans yang bagus dan cacat. Kemudian sortiran yang sudah bagus, kami sorot dengan senter ultraviolet; memastikan biji yang cacat dipisahkan dari yang bagus.

Akhir Agustus, saya mengirim contoh 2 kg green beans ke panitia CoE di Bandung. Sebulan kemudian, ada briefing dari panitia, kalau peserta yang mengirim sample ke lomba CoE Indonesia sebanyak 158 petani dan prosesor.

Panitia memilah kopi dengan dua kriteria awal: kadar air 9,5 – 12% dan water activity maksimal 0.65. Selain cacat fisik yang minimal, sampel Kopi Sarongge kadar airnya 11%, dan water activity 0.5; jadi lolos untuk disangrai dan dicicip oleh juri nasional. Pada Oktober, saya membaca di Instagram Cup of Excellence Indonesia @cupofexcellence.indonesia) bahwa ada 79 kopi yang lolos di babak nasional ini (skor di atas 86). Panitia menghubungi lewat whatsapp, agar yang lolos menyiapkan lot untuk lelang seperti kami janjikan. Kopi Sarongge termasuk salah satu yang lolos babak nasional. Dan seperti janji di awal lomba, kami siapkan 250 kg green beans untuk persiapan lelang. Ini lot terkecil yang dimungkinkan peserta ikut lomba. Tidak boleh kurang dari 250 kg (walaupun ini berarti semua produksi Sarongge Kenyan Wash harus dikirim).

November kami kirim stock itu ke Gudang CoE di Cibinong.

Selanjutnya, kembali menunggu. Tiga juri nasional (dari 8) bergabung dengan juri internasional lain, untuk menilai babak ini. Mereka cupping lagi. Dan, terpilih 36 kopi yang masuk babak internasional. Kopi Sarongge salah satunya. Bila skor di atas 87, akan dilelang internasional. Bila 86-87 akan dilelang nasional, atau disebut National Winners. Sampai tahap ini, ternyata masih ada 4 kopi yang dinyatakan gugur, karena juri menemukan jejak phenol saat cupping terakhir. Hingga tersisa 32 kopi, 26 akan dilelang internasional dan 6 lelang nasional. 

Kopi Sarongge termasuk salah satu CoE Winners yang akan dilelang internasional pada 27 Januari 2022. Skornya 87,22.

Notes dari juri internasional, secara umum kopi ini: gurih, asam segar seperti anggur putih, dan netral. Aroma/Flavour yang ditemukan antara lain: buah persik (peach), apel, melati, brown sugar. Jadi seperti apa respon para bidder, kita tunggu tanggal lelangnya.

***

Istana Cipanas Sajikan Kopi Sarongge

Istana Cipanas Sajikan Kopi Sarongge

Istana ini tak seberapa jauh dari kebun-kebun kopi petani Sarongge. Tiap kali petani pergi ke pasar Cipanas, tentu melewati depan istana yang dikelilingi kebun rindang. Maka, kegembiraan buat petani Sarongge, ketika tahu kopinya tersaji di Istana Cipanas.

“Sangat bangga karena Kopi Sarongge disajikan di istana,” kata Mamun, seorang petani kopi yang sering mengantar pesanan ke istana tersebut.

Adalah Sinta Puspitasari, Kepala Istana Cipanas, yang berinisiatif menyajikan kopi lokal ini kepada tamu-tamu Istana. Menurut dia, kopinya enak, dan ia senang dapat mempromosikan produk lokal. Beberapa varian yang jadi favoritnya a.l : Sarongge 1535 dan Sarongge Lanang (peaberry). Ia sering memesan kopi menyesuaikan dengan jadwal roasting di Sarongge.  “Supaya dapat roasted bean yang fresh,” katanya.  Untunglah jadwal sangrai itu makin sering – Senin, Rabu, Sabtu -, sehingga untuk Istana Cipanas selalu dapat pasokan kopi segar. Kopi yang baru disangrai.

Kopi Sarongge ditanam petani di kaki Gede, sekira 10 km dari Istana Cipanas.  Kopi dibudi-dayakan sebagai bagian dari ikhtiar merawat hutan dan menambah penghasilan petani. Tahun 2003, di masa Presiden Megawati Soekarnoputri, sebagian area Perhutani di kaki Gede   diubah statusnya masuk ke dalam taman nasional. Petani yang berkebun sayur di sana, sebagian petani Sarongge, turun gunung dan mengubah kebun sayurnya jadi hutan. Petani itulah yang sekarang menanam kopi, dan hasilnya dapat dinikmati  bersama.  Kopi dengan cita rasa dari hutan yang terjaga.

Istana Cipanas menempati areal 26 ha. Tapi hanya 7.760 m2 yang dipakai untuk bangungan. Selebihnya ditata menjadi kebun dan hutan kecil.  Pohon-pohon endemik Jawa Barat dapat ditemukan di sini. Istana ini lebih sering dipakai tempat istirahat presiden. Tetapi sesekali juga digunakan untuk rapat. Salah satu momen bersejarah adalah 13 Desember 1965, ketika Presiden Soekarno memimpin rapat kabinet, yang memutuskan pemotongan uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1,-

Petani Sarongge pun pernah diundang rapat di Istana Cipanas. Yakni ketika persiapan kunjungan Presiden SBY ke Sarongge 8 Januari 2013. Rapatnya di Aula Istana, beberapa pekan sebelum kunjungan presiden. Berbagai pihak berkoordinasi untuk lancarnya kunjungan kerja presiden yang waktu itu turut menanam pohon di bukit-bukit Sarongge. Tiga bukit seluas 38 ha itu, sekarang telah kembali jadi hutan. Pohon adopsi SBY, rasamala, telah tiga meter lebih tingginya.

Mudah-mudahan Kopi Sarongge dapat terus dinikmati tamu di Istana Cipanas. Baik ketika istirahat, maupun pada rapat-rapat penting yang mungkin digelar suatu waktu.

***

Jaga Jarak, Rekatkan Solidaritas

Jaga Jarak, Rekatkan Solidaritas

Mengapa virus ini menakutkan?

Karena dia begitu kecil. Tak terlihat. Tapi menyebar sangat cepat, dan membunuh orang dalam hitungan hari. Sebelum orang sempat bereaksi. Menghadapi pembunuh yang tak tampak itu, kita serasa dikepung bahaya. Tak tahu harus memasang pertahanan apa.

Memang kemudian ada penjelasan. Bagaimana COVID-19 menginfeksi orang. Menular dari satu ke orang lain, lewat percikan liur, bersin, batuk. Tak ada bukti virus ini bisa terbang sendiri di udara. Maka dianjurkan: orang menjaga jarak satu sama lain, sekurangnya 2 m. Dan, hindari kerumunan.

Apapun tujuan kerumunan itu, dampaknya sama. Entah seminar gereja, pentahbisan uskup, seminar bisnis syariah, tabligh akbar, kongres partai, musyawarah pengusaha, mantenan, reuni sekolah, konser musik, liburan keluarga. Semua yang membuat orang berdekatan, memudahkan COVID-19, pembunuh tak kasat mata itu, sekelebat loncat pindah inang. Artinya: menerkam korban baru.

Dan virus ini tak diskriminatif. Ia tidak memilih sasaran. Acak. Dari menteri sampai sopir bus. Juga pangeran hingga pegawai. Siapa saja bisa kena. Gejalanya: demam, batuk, sesak nafas. Bisa pulih kalau daya tahan tubuh kuat. Tapi tak sedikit yang mati. Apalagi kalau yang dihinggapi itu sebelumnya punya riwayat sakit: darah tinggi, jantung, diabetes. Orang berusia lebih dari 60 tahun, lebih rentan pada daya bunuh COVID-19.

Maka cara untuk memutus rantai penyebarannya adalah jaga jarak. Presiden Jokowi memberi teladan bagus. Bahkan pada saat berkabung atas wafat Ibundanya, ia meminta pejabat Jakarta tidak datang melayat ke Solo. Yang ia harap adalah doa dari jauh. Presiden konsisten dengan kebijakannya: agar orang menjaga jarak, tidak berkerumun.

Jalan duka masih panjang. Kurva korban masih meningkat. Belum terlihat puncaknya. Apalagi landai. BNPB menetapkan Darurat Corona ini sampai 29 Mei 2020. Dua bulan lagi. Yang mengkhawatirkan, pada 24-25 Mei adalah hari raya lebaran. Biasanya didahului tradisi mudik massal. Tahun lalu, mudik melibatkan perjalanan pulang sekitar 18 juta orang.

Memang mulai ada imbauan untuk tidak mudik lebaran tahun ini. Jakarta adalah wilayah dengan positif COVID-19 tertinggi di Indonesia. Kalau orang tetap mudik ke kota-kota asalnya, diduga akan menyebarkan virus ini lebih masif. Dan makin sulit penanganannya.

Saat ini, kita punya gugus tugas penanganan COVID-19. Dikomandani Doni Monardo yang juga Kepala BNPB. Selain serukan jaga jarak, gugus tugas ini memobolisir semua potensi untuk menangani yang sakit. Rumah sakit darurat khusus COVID-19 didirikan di Wisma Atlet Kemayoran. Pemeriksaan cepat, juga jadi salah satu program ujung tombak mereka.

Dan yang berdiri paling depan, mengambil risiko tertular, dalam tugas mulia ini, adalah dokter dan para tenaga kesehatan. Merekalah pahlawan yang sekarang berjibaku menyelamatkan warga.

Petani Sarongge mengirimkan kopi dari kebun mereka untuk para tenaga kesehatan yang sedang berjuang itu. Sekiranya ada jeda, biarlah SARONGGE Ki Hujan Aren ini menemani dan memberi sedikit kesegaran. Hanya itu yang kami punya. Dan kami ingin mendukung para pahlawan itu, dari garis belakang.

COVID-19 memang menakutkan. Tetapi ada lebih banyak kekuatan, solidaritas yang akan membuat kita mengatasi wabah ini. Mari, kita perkuat rasa dan tindakan saling dukung.

Hormat untuk para pahlawan, tenaga kesehatan kita.

Dhama Eka Juara di Sukabumi Coffee Festival dengan Kopi Sarongge

Bawa Kopi Sarongge, Dharma Eka Jawara Barista Sukabumi

Minggu, 28 Juli 2019 menjadi hari yang luar biasa bagi seorang Dhama Eka. Barista cantik asal Barn Coffee yang satu ini kembali berhasil menorehkan prestasi yaitu sebagai juara di acara Sukabumi Coffee Festival yang diselenggarakan Lokaproject Sukabumi di Museum Pegadaian. Menariknya Dhama menggunakan Kopi Sarongge untuk babak semifinal dan final.

“Awalnya kita masih bingung dan searching roasted bean apa yang mau dipakai buat compete, khususnya di babak open service. Tapi kebetulan teman saya yang kerja di Cianjur ketemu kang Fakhri di Mauna Coffee – Cianjur, dia bawa green bean Sarongge Full Wash sama Sarongge Natural, buat dicoba di-roasting di Two Hands Full (THF), Bandung. Owner Mauna, Davin, punya akses ke THF, ke roaster-nya langsung Stefan Setiadi. Setelah di-roasting, teman saya Adhi, menyimpulkan Kopi Sarongge hasil roasting THF, lebih soft juga punya cita rasa fruity yang intens. Jadi, kita yakin Kopi Sarongge ini yang kita pilih buat babak open service,” tutur Dhama mengenai alasan penggunaan Kopi Sarongge.

Lebih lanjut, Dhama dan kawan-kawan memilih Sarongge Natural untuk babak semifinal adalah karena bean ini lebih intens aroma buah nanas dan brown sugar, lalu ada cocoa nibs. Juga medium tartaric acid dan sweet like grape. Bodynya smooth, juicy and clean. Long after taste dan sweet dengan rasa nanas yang intens ketika hangat.

Sementara itu, Dhama juga menuturkan perihal penggunaan bean Sarongge Full Wash untuk babak final karena bean Sarongge Full Wash memiliki aroma brown sugar, hints aroma dari jahe. Dhama juga menuturkan dia menyukai flavor kayu manis dan red apple. Ketika kopinya dalam keadaan dingin flavornya jadi lemon mellow. Body yang smooth, thick but not heavy body, juga menjadi salah satu alasan kenapa Dhama memilih menyeduh Sarongge Full Wash di babak Final.

Bambang Wahyu Hidayat, sebagai national certified judge yang menjadi salah satu juri di acara Sukabumi Coffee Festival menuturkan salah satu kriteria sebagai juara adalah cup score, yang menunjukan kepiawaian barista untuk memilih kopi yang akan digunakan. Selain itu, ada juga penilaian untuk taste description dan customer service. Dhama Eka menunjukan dia berhasil menguasai 3 elemen tersebut, sehingga akhirnya tim juri memberikan nilai tertinggi untuknya.

Dhama Eka yang akrab dipanggil Dhama ini ternyata sudah lebih dari 1 tahun berprofesi sebagai barista. Awalnya, Dhama sering mengelilingi coffee shop di Sukabumi untuk mencoba berbagai seduhan manual. Karena merasa penasaran, Dhama mulai banyak bertanya kepada barista-barista senior. Namun ternyata, semakin banyak tahu, Dhama semakin heran. Mengapa rasa kopi yang dia coba bisa berbeda rasanya? Bahkan dia heran ketika menemukan kopi dengan rasa unik seperti vanila atau buah mangga.

Dhama juga menuturkan, dari kopi dia bertemu kekasih yang juga mentornya di dunia kopi saat ini. Mulai saat itu Dhama mulai fokus dan intens belajar tentang kopi. Passion dan motivasi Dhama ternyata tidak hanya sebatas menyeduh kopi, Dhama juga ingin mulai mengenal kopi dari hulu hingga ke hilir, lebihnya dia juga ingin mengenalkan kopi manual brew kepada orang-orang yang masih menilai kopi itu pahit. Menurutnya, kopi itu sudah sebagai sarana komunikasi baik dalam pertemanan, bisnis bahkan percintaan, layaknya Dhama yang menemukan Aldi sebagai mentor dan kekasihnya. Lebih jauh, Dhama menuturkan, “mungkin Tuhan menciptakan Kopi sebagai penengah, bagi kita yang terpisah rumah.”

Sarongge Natural Raih Skor 87,5

Sarongge Natural Raih Skor 87,5

Skor Sarongge Natural

Kopi Sarongge jenis arabica yang diolah secara natural, tahun ini mendapat skor 87,5. Nilai yang memastikan kopi dari Kampung Sarongge, Cianjur ini masuk dalam kategori specialty coffee. Meski baru pertama kali diuji cita rasa, kopi hasil perhutanan sosial ini, melampaui batas untuk disebut kopi specialty, yang mensyaratkan nilai 80.

Skor arabica Sarongge itu didapat dari uji cita rasa yang dilakukan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Puslikoka, Jember. Pengujian dilakukan pada 24 -26 Juni 2019. Beberapa aspek seperti: uniformity, clean cup dan sweetness, memperoleh skor sempurna, yakni 10. Tingkat defect 0. Dan flavour serta body mendapat skor 8,5. Secara total skornya 87,5.

Notes yang ditulis panel penguji Puslitkoka, kopi ini  ada rasa: caramelly, brown sugar, dried fruit, flowery, honeyed.

Kopi ditanam petani Sarongge sebagai upaya merawat hutan dan menambah penghasilan.  Mereka mendapat izin perhutanan sosial, untuk menanam kopi di bawah tegakan hutan. Varietasnya campuran: Lini S, Sigararutang, Andungsari dan Typica. Kebun dan talun, (agroforestry) menyebar di ketinggian 1.000 -1.600 mdpl. Para petani merintis menanam kopi di sini sejak 2015.

Saat ini sekitar 100 keluarga tani bertanam kopi di tiga desa: Ciputri, Pakuwon dan Ciherang. Kecamatan Pacet dan Sukaresmi, Cianjur.  Mencakup areal 120 ha. Mereka yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH): Satria Mandiri, Rindu Alam dan Maju Barokah itu, adalah mitra Kopi Sarongge yang menyediakan cherry terbaik, untuk kopi berkualitas. Skor tinggi untuk arabica Sarongge Natural ini, adalah penghargaan untuk jerih payah dan kesungguhan  mereka mengelola kebun kopi. Juga merawat hutan.

Kedai Kopi Sarongge

Kedai Kopi Sarongge

Kedai Kopi Sarongge

Ide awal Kedai Kopi Sarongge ini berdiri untuk mengajak khalayak mencicipi kopi enak dengan harga terjangkau. Selama ini masyarakat di Kota Sukabumi hanya ditawari dua pilihan: menikmati kopi dalam kemasan dengan harga terjangkau atau kopi-kopi terbaik yang hanya ada di daftar menu coffee shop dengan harga yang tinggi.

Hal itu juga yang membuat saya berfikir bahwa harus ada kedai kopi yang bisa dijangkau semua kalangan. Lalu saya mengajak seorang teman bernama Denny Aprianto yang memiliki latar belakang bisnis untuk membangun Kedai Kopi Sarongge. Kenapa harus Sarongge? Pertama, saya bertemu dengan Mas Tosca Santoso, orang yang giat menjalankan program perhutanan sosial dan sudah sejak lama bersama masyarakat Sarongge bertani kopi. Dialah orang yang mau membantu berdirinya Kedai Kopi Sarongge di Kota Sukabumi. Kedua, Kopi Sarongge sendiri sudah banyak dikenal dan diapresiasi oleh banyak pihak.

Kendati sudah banyak bermunculan kedai kopi dengan pelbagai konsep di Kota Sukabumi, berdirinya Kedai Kopi Sarongge adalah Ikhtiar untuk merawat cita rasa dari hutan yang terjaga.

Kedai Kopi Sarongge merupakan inisiatif Farizal dan Denny Aprianto, sebagai suatu apresiasi pada Kopi Sarongge dan perhutanan sosial.

Kedai Kopi Sarongge beralamat di Jl. Jendral Sudirman No. 33, Kota Sukabumi dan mulai menyeduh pada tanggal 22 Juni 2019.

HUT Cianjur

HUT Cianjur

Teaser HUT Cianjur

Berawal dari kultur stelsell, Cianjur pernah menjadi eksportir kopi terbesar di dunia dibawah kendali VOC, sebuah sejarah yang membanggakan tapi juga memilukan, petani yang menanam kopi tidak pernah bisa merasakan apa yang mereka tanam.

342 tahun Cianjur, semangat petani kopi di Cianjur kembali bergema, tujuannya sama: mengembalikan Kopi Cianjur sebagai primadona warga dunia. Salah satunya kelompok petani Kopi Sarongge, yang memiliki keinginan untuk mengembalikan kejayaan Kopi Cianjur melalui Kopi Sarongge. Bedanya, kali ini tanaman kopi sepenuhnya adalah milik mereka, dibantu oleh program pemerintah yaitu Perhutanan Sosial, program yang menjamin penggunaan lahan bercocok tanam selama 35 tahun.

Negri Kopi juga mendukung niat para petani tersebut, untuk meningkatkan konsumsi kopi warga Cianjur. Pada bulan Juli, bertepatan dengan hari jadi Cianjur yang ke-342, kami memberikan penawaran terbaik, yaitu paket HUT Cianjur yang terdiri dari:

  1. 3 Varian Kopi Sarongge
  2. Cangkir enamel
  3. Gula Aren produksi Petani Pakuwon

 

Dari Cianjur, Oleh Petani Cianjur, Untuk Warga Cianjur.

Nantikan informasi selanjutnya, dan tetap nikmati Cita Rasa dari Hutan yang Terjaga.