HUT Cianjur

HUT Cianjur

Teaser HUT Cianjur

Berawal dari kultur stelsell, Cianjur pernah menjadi eksportir kopi terbesar di dunia dibawah kendali VOC, sebuah sejarah yang membanggakan tapi juga memilukan, petani yang menanam kopi tidak pernah bisa merasakan apa yang mereka tanam.

342 tahun Cianjur, semangat petani kopi di Cianjur kembali bergema, tujuannya sama: mengembalikan Kopi Cianjur sebagai primadona warga dunia. Salah satunya kelompok petani Kopi Sarongge, yang memiliki keinginan untuk mengembalikan kejayaan Kopi Cianjur melalui Kopi Sarongge. Bedanya, kali ini tanaman kopi sepenuhnya adalah milik mereka, dibantu oleh program pemerintah yaitu Perhutanan Sosial, program yang menjamin penggunaan lahan bercocok tanam selama 35 tahun.

Negri Kopi juga mendukung niat para petani tersebut, untuk meningkatkan konsumsi kopi warga Cianjur. Pada bulan Juli, bertepatan dengan hari jadi Cianjur yang ke-342, kami memberikan penawaran terbaik, yaitu paket HUT Cianjur yang terdiri dari:

  1. 3 Varian Kopi Sarongge
  2. Cangkir enamel
  3. Gula Aren produksi Petani Pakuwon

 

Dari Cianjur, Oleh Petani Cianjur, Untuk Warga Cianjur.

Nantikan informasi selanjutnya, dan tetap nikmati Cita Rasa dari Hutan yang Terjaga.

Testimoni Kongkouw

#KataMereka tentang Kopi Sarongge - Kongkouw Coffee House

Iza, Co-founder dari Kongkouw Coffee House – Bogor, dan juga Head Project dari Quali Coffee Bean and Roastery, membagikan cerita perjalanannya mengenal Sarongge Full Wash, varian unggulan dari Kopi Sarongge. Bagaimana kompleksitas cita rasa dari hutan yang terjaga bisa ditemukan oleh Iza ketika menyangrai Kopi Sarongge? Simak dalam #KataMereka tentang Kopi Sarongge, cita rasa dari hutan yang terjaga.

Modifikasi Paska Panen

MODIFIKASI PASKA PANEN

Fermentasi Ruang Vakum pada proses Natural

Panen tahun ini, kami coba pengolahan yang sedikit berbeda. Tidak dalam jumlah banyak. Tetapi kalau hasilnya baik, akan diproduksi lebih massal pada panen berikut. Modifikasi paska panen pertama: pengolahan kering yang biasanya setelah rambang langsung dijemur, kali ini kami fermentasi lebih dulu dalam ruang vakum (kedap udara). Natural vacuum.

Ruang vakumnya sederhana saja. Memakai kantong plastik yang biasa digunakan petani mengemas sayur. Setelah biji kopi pilihan dimasukkan kantong, sisa udara kami sedot semaksimal mungkin. Lalu ditutup rapat. Fermentasi dua hari dalam ruang minim udara itu, diharap mengoptimalkan bakteri yang akan membuat fermentasi untuk berjalan secara anaerobik. Bekerja lebih giat memecah sisa gula. Setelah fermentasi, biji kopi dijemur sampai kadar air 12% dan kemudian cangkangnya dikupas dengan mesin huller.

Fermentasi Konyal

Percobaan kedua: olah basah. Yang biasanya setelah dikupas kopi difermentasi. Kali ini fermentasinya ditambah cacahan buah konyal. Buah hutan yang banyak tumbuh di Sarongge.  Kami membayangkan cita rasa buah yang lebih kompleks. Tapi apakah hasilnya memang begitu, perlu dibuktikan. Percobaan ini  tak dapat banyak diulang , karena musim panen konyalnya mendahului panen kopi. Ketika banyak gelondong datang dari kebun petani, konyalnya sudah habis.

Kami penasaran menunggu hasil percobaan ini.

V60

Cara Seduh V60, Teknik Manual Brew Kopi yang Mesti Anda Bisa

Karena tak punya mesin pembuat kopi (coffee maker) bertenaga listrik, saya hanya punya empat pilihan cara seduh kopi secara manual jika sedang berada di rumah. Para pecinta kopi, baik sekadar penikmat maupun barista, acap menyebutnya dalam Bahasa Inggris: manual brew.

Keempat cara manual brew yang biasa saya lakukan adalah metode tubruk, French press, Vietnam drip dan teknik pour over melalui sebuah alat menyerupai kukusan bambu (cone) berukuran kecil yang dipasangi filter kertas untuk menyaring gilingan kopi disebut cara seduh V60 dripper.

Di antara keempat cara seduh kopi manual itu, yang paling sering saya gunakan adalah dengan menggunakan V60 dripper dari Hario. Alat yang berbentuk seperti cangkir yang mengerucut ke bawah ini berbahan dasar macam-macam. Ada yang terbuat dari keramik, kaca (gelas), plastik, dan ada juga yang berbahan dasar logam. Desainnya unik, bagian dalamnya seperti jalan pegunungan yang melingkar, berkelok dari bawah ke atas.

Cara seduh atau brewing method V60 Dripper

Cara Seduh V60 Relatif Baru

Cara seduh kopi dengan menggunakan V60 dripper ini sebenarnya relatif baru dalam dunia perkopian. Pabrik Hario, yang berdiri pada 1921 di Tokyo, awalnya hanya membuat dan menjual produk-produk berbahan gelas yang masih mengandung bahan-bahan kimia.

Setelah melalui riset panjang, 30 tahun kemudian mereka baru memproduksi Hario Glass, yang 100 persen terbuat dari mineral alami tahan panas dan ramah lingkungan. Pada 1949 – 4 tahun sesudah tentara Sekutu menjatuhkan bom ke Hiroshima dan Nagasaki, Hario meluncurkan coffee syphon dengan filter gelas, yang kemudian pada 1957 menjadi filter kain.

Lantas kapan V60 dripper dibuat? Hario baru meluncurkannya 13 tahun lalu, tepatnya pada 2005. Jadi memang benar-benar relatif baru. Dinamakan V60 karena desain alat ini memiliki vector 60, membentuk sudut 60 derajat. Ini adalah temuan besar dalam teknik manual brew, selain alat-alat yang sudah beredar sebelumnya.

Bahan dasar V60 produksi Hario ini awalnya hanya terbuat dari keramik dan gelas. Baru kemudian disusul V60 yang berbahan dasar plastik dan metal.  Bahan paling bagus di antara semua V60 dripper adalah yang terbuat dari tembaga karena bahan ini memiliki konduktivitas panas yang tinggi. Karena mampu menyimpan panas lebih baik, copper coffee dripper ini juga diklaim memiliki tingkat ekstrasi yang lebih baik.

Cara Seduh yang Lebih Responsif

Dibandingkan coffee drippers lain, V60 dripper juga dinilai lebih responsif terhadap banyak variabel. Itu semua karena faktor desainnya. Pertama, bentuknya yang kerucut, dengan sudut 60 derajat, memungkinkan air panas mengalir ke pusat dan memperpanjang waktu kontak.

Kedua, lubang tunggal yang besar memungkinkan barista atau penyeduh kopi mengubah cita rasa dengan cara memainkan kecepatan aliran air. Dan ketiga, desain spiral (sirkular) di dalam alat V60 yang naik ke atas memungkinkan udara di dalam kopi yang tersiram air panas untuk melepaskan diri sehingga memaksimalkan perluasan permukaan bubuk kopi.

Tahapan Manual Brewing V60 Dripper

Lantas bagaimana cara melakukan manual brew yang benar dengan menggunakan V60 dripper? Di antara barista sendiri, tampaknya belum ada kesepakatan penuh tentang metoda terbaik. Semua akhirnya dikembalikan ke selera masing-masing. Kata saya sih, selera bisa dibina tapi pencernaan selalu berpijak pada lingkungan. Jadi, bebas saja.

Meski begitu, tetap ada baiknya mengikuti panduan umum yang banyak dipraktikkan barista dan penikmat kopi di Indonesia. Langkah umumnya adalah sebagai berikut:

  1. Giling biji kopi segar Anda dengan ukuran medium, jangan halus. Dan sebaiknya pilih kopi jenis Arabica ketimbang Robusta. Tentu saja karena kopi Arabica lebih kaya rasa dan aroma daripada Robusta.
  2. Rebus air berkualitas tinggi (hindari memakai air yang mengandung kaporit) hingga mendidih. Lantas tunggu sekitar 40-45 detik hingga suhu mencapai 90º C – 96ºC. Lebih bagus kalau air tersebut berada pada ketel leher angsa.
  3. Lipat saringan (filter) di sepanjang sambungan. Tekuk sedikit pada ujung bawahnya. Letakkan pada V60 dripper yang sudah tersedia.
  4. Basahi filter secara menyeluruh dengan air panas. Pembasahan ini selain membantu menghilangkan rasa dan bau kertas filter, juga membantu memanaskan V60 dripper dan server (wadah air kopi). Jika tidak dipanaskan, suhu air akan turun secara drastis dan kopi tidak akan diekstraksi dengan benar.
  5. Tuangkan bubuk kopi yang sudah digiling medium tadi ke dalam V60 dripper. Berapa banyak? Lagi-lagi ini tergantung selera dan kebiasaan kita saja.
  6. Ambil ketel leher angsa yang sudah berisi air panas. Ketel leher angsa memudahkan kita untuk mengendalikan aliran air ke dalam V60 dripper.
  7. Mulailah dengan menuangkan sekitar 20 persen air ke atas permukaan kopi di dalam V60 dripper. Biarkan sebentar agar mengembang (blooming). Bagi banyak penyeduh kopi, ini adalah menjadi bagian paling favorit karena kita dapat melihat seberapa segar biji kopi kita.
  8. Setelah menunggu selama 30-45 detik, mulai tuang air membentuk lingkaran. Ukuran biji kopi yang digiling dan kecepatan aliran air akan memengaruhi waktu tuang. Idealnya perlu waktu antara 2 hingga 4 menit.

Kopi siap disajikan. Hirup dahulu aromanya, baru cecap dan minum.

Light Atau Full Body?

Nah, gampang kan? Satu hal yang patut diperhatikan di sini agar hasil seduhan sesuai dengan selera kita adalah ukuran gilingan (bubuk) kopi dan kecepatan aliran air. Jika kita menuang air secara perlahan, hasilnya akan menjadi kopi yang bertubuh penuh (full body). Sebaliknya jika kita menuang air lebih cepat, proses ekstraksi akan berlangsung lebih lemah dan kopi yang dihasilkan terasa lebih ringan.

Ukuran bubuk juga dapat mempengaruhi body. Jika kita menggunakan bubuk kecil atau halus, air tidak bisa melewati V60 dripper dengan cepat. Akan butuh waktu lebih lama jika kita menggunakan bubuk kopi halus dibanding bubuk kasar atau medium. Karena itu saya lebih suka menggiling kopi dengan ukuran medium, kira-kira 7 (tujuh) klik mundur pada setelan manual grinder. Rumusnya kira-kira begini:

Aliran air konstan + ukuran bubuk kecil = medium body 
Aliran air lambat + ukuran bubuk kecil = full body
Aliran air konstan + ukuran bubuk medium = light body
Aliran air lambat + ukuran bubuk medium = light body

 

Heru Hendratmoko

Parsel Lebaran

Parsel Lebaran

Parsel Lebaran

Kami persembahkan Parsel Lebaran Lima Kopi Satu Cerita untuk memeriahkan Ramadhan Tahun ini

Bisa sebagai teman saat mudik, saat kumpul keluarga, atau pemberian untuk kerabat juga relasi.

Terdiri dari:
Sarongge Full Wash
Sarongge Rosidi
Sarongge Ki Hujan
Sarongge Lanang
Sarongge Luwak Robusta
Buku Lima Hutan Satu Cerita

Dari semula Rp295.000 kami beri POTONGAN HARGA 32% hingga Rp200.000 ditambah FREE ONGKIR untuk wilayah Cianjur, Sukabumi, Bandung & Jabodetabek.

Pemesanan kami buka mulai 6 Mei 2019 hingga 25 Mei 2019.

Segera kontak WA 0878 2025 2042 (Fakhri) atau 0857 9744 8092 (Fikri) untuk merayakan lebaran dengan cita rasa dari hutan yang terjaga.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Sarongge Ki Hujan

SARONGGE Ki Hujan

Ki Hujan (Engelhardia spicata) adalah pohon endemik di hutan Sarongge. Racikan sedikit robusta dan banyak arabica ini dibuat untuk menyesuaikan kebiasan petani menikmati kopi, dengan rasa penuh di rongga mulut. Kopi arabica akan memberikan kompleksitas asam, sedangkan kopi robusta memberikan body yang lebih tebal. Sarongge Ki Hujan, adalah jembatan bagi seluruh kalangan untuk menikmati kopi.

Sarongge Ki Hujan merupakan kopi yang diolah secara basah, atau Full Wash.

SARONGGE Ki Hujan Aren

Kini, Sarongge Ki Hujan juga tersedia dalam kemasan siap seduh. Racikan spesial yang berisikan arabica, robusta dan gula aren ini bisa langsung diseduh hanya dengan menambahkan air panas saja.

Kami menggunakan gula aren yang diolah dari pohon aren asli hutan, sehingga tetap menjaga cita rasa dari hutan yang terjaga.

Ladu

Ladu memperkenalkan indahnya gunung-gunung, hutan dan nikmatnya kopi Indonesia. Dari Lembah Masurai, Toraja, Tambora dan pegunungan Jawa. Yanis dan Arti, menemukan kopi dengan citarasa berbeda.

Walau letusan gunung, kadang mengubur peradaban. Tapi di hari biasa, gunung adalah berkah yang membuat petani betah menghuni lereng-lerengnya. Dan mereka putuskan membuka kebun kopi di kaki Gunung Geulis. Tempat Ki Hujan ini berawal…

Novel Ladu bisa didapatkan di sini.

Sarongge Rosidi

SARONGGE Rosidi

Sarongge Rosidi, robusta terbaik (fine robusta) dari dataran tinggi. Karena ketinggiannya ini, ia menyimpan jejak manis serta cokelat, yang cukup jarang ditemukan pada robustarobusta di Indonesia pada umumnya. Varian ini dibuat untuk mengigat petani yang sabar dan tekun mengolah tanah mereka, Ia juga penanda akan masa, yang seberat apa pun telah mereka lalui,

Sarongge Rosidi kemudian diolah secara basah, atau Full Wash.

Rosidi diambil dari nama petani yang pernah tinggal di Kampung Sarongge. Ia berasal dari Sukanagara, dan dibawa ke kampung kaki Gn. Gede ini setelah prahara 1965. Rosidi ditangkap dan ditahan tanpa pernah diadili. Sampai wafat di kampung ini 2017. Kisah hidupnya dapat dibaca lewat buku “Cerita Hidup Rosidi”, karya Tosca Santoso 2016.

Buku Cerita Hidup ROSIDI

Cerita Rosidi di BBC

Cerita Rosidi di tirto.id

Sarongge Lanang

Sarongge Lanang

Pada umumnya, buah kopi jika dibelah akan memiliki dua biji di dalamnya. Namun, pada setiap panen kopi biasanya terdapat sekitar 3% buah kopi yang berbiji tunggal (lanang, peaberry). Biji menyimpang itu dipilah secara tekun untuk menghasilkan Sarongge Lanang. Akibat dari biji tunggal ini, terdapat intensitas asam dan segar buah yang lebih terasa, karena seluruh nutrisi pada buah kopi hanya akan terserap pada satu biji saja.

Sarongge Lanang kemudian diolah secara basah atau Full Wash.