Adopsi Pohon: Bekas Kebun Sayur Itu, Kini Jadi Hutan

Suatu sore di Green Radio, 2008.

Seorang pendengar bertanya, ”Bagaimana bisa ikut memperbaiki hutan, sementara tak punya banyak waktu?”

Kami berdiskusi tentang upaya mengurangi banjir di Jakarta. Dan memperbaiki tutupan hutan di hulu Jakarta, jadi salah satu solusi. Tapi banyak di antara pendengar yang ingin terlibat itu, tak punya waktu untuk menanam pohon ke kaki Gunung Gede.

Para punggawa Green Radio lalu berkoordinasi dengan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP). Waktu itu, TNGGP sudah bekerjasama dengan Conservation International, dengan mengampanyekan program adopsi pohon. Green Radio turut dalam skema itu, dan diarahkan ke Sarongge oleh Kepala Balai TNGGP waktu itu, (alm) Bambang Sukmananto. Kami mulai giat berkomunikasi dengan petani Sarongge, Mei 2008.

Intinya dalam program ini, ada adopter yang menyumbang Rp 108 ribu, untuk ditanamkan sebatang pohon atas namanya. Pohon ditandai dengan GPS, dan adopter sewaktu-waktu dapat menengok pohonnya. Dana digunakan untuk membeli bibit, merawat pohon, dan membuat kegiatan ekonomi di luar kebun. Agar suatu saat, petani dapat keluar dari kebun yang statusnya sejak 2003 telah jadi bagian taman nasional.

155 keluarga tani itu sudah berpuluh tahun berkebun di bukit-bukit Sarongge. Tetapi ketika lahan Perhutani itu diubah jadi taman nasional, kebun sayur mesti dihutankan. Program adopsi pohon membantu mengiringi petani keluar dari taman nasional, sembari mencari alternatif penghasilan. Ada yang jadi peternak kambing, kelinci. Ada juga yang belajar industri rumahan dan sekarang jadi produsen sabun.

Tahun 2013, setelah kunjungan Presiden SBY,  seluruh petani Sarongge sudah keluar dari taman nasional. Hutan seluas 38 ha itu pulih. Sekira 22.000 pohon diadopsi belasan perusahaan dan ratusan individu. Sebagian pohonnya sekarang setinggi 20 m. Warga Sarongge yang berkumpul dalam Koperasi Sugih Makmur mendapat izin kelola ekowisata di hutan yang mereka rawat. Sarongge menjadi contoh bagaimana petani terlibat dalam penghutanan kembali. Lewat program adopsi pohon.

Kini program adopsi pohon dilanjutkan Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia. Bukan di area taman nasional, tetapi di tanah desa sekitar Sarongge. Juga di wilayah perhutanan sosial.  Antara lain di Desa Pakuon, Cibereum dan juga Ciherang. Adopsi model baru ini tetap dalam upaya merawat hutan, dan meningkatkan pendapatan petani. Tetapi karena hutannya, hutan produksi atau lindung, petani dapat tetap bekerja di sana.  Dengan pola agroforestry.